TEORI KECERDASAN GANDA DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARA



KATA PENGANTAR

         Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas nikmat dan karunia-Nya kita dapat menyelesaikan makalah tentang “Teori Kecerdasan Ganda Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran”. Kami mengucapkan terima kasih kepada  Prof. Dr. C. Asri Budiningsih, M.Pd selaku Dosen Pengampu mata kuliah Teori Pembelajaran prodi Teknologi Pembelajaran Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan tugas ini.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah wawasan bagi para pembacanya terutama tentang Teori Kecerdasan Ganda Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan semoga Allah SWT selalu memberkati hidup kami semua.

Yogyakarta , 23 Oktober 2022

 

            Penyusun



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ada indikasi proses pembelajaran sekarang ini sering sekali menyimpang dari esensi pendidikan dengan logika yang tercampur aduk. Thomas Armstrong dalam bukunya "sekolah para juara" juga mendeskripsikan model pembelajaran klasik yang antara lain memunculkan asumsi-asumsi: Pertama, para guru cenderung memisahkan atau memberikan identifikasi kepada para muridnya sebagai murid-murid yang pandai di satu sisi, dan murid-murid yang bodoh di sisi lain. Kedua, suasana kelas cenderung monoton dan membosankan. Hal ini dikarenakan para guru biasanya hanya bertumpu pada satu atau dua jenis kecerdasan dalam mengajar, yaitu cerdas berbahasa dan cerdas berlogika.Ketiga, mungkin seorang guru agak kesulitan dalam membangkitkan minat atau gairah murid-rnuridnya karena proses pembelajaran yang kurang kreatif.

Kondisi inilah yang mendorong para ahli psikologi untuk mencari dimensi Iain dari kepribadian diri siswa yang merupakan indikator keberhasilan pembelajaran.Salah satu teori psikologi yang mempunyai peranan besar terhadap pendidikan adalah teori multi kecerdasan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka kami bemaksud membahas lebih lanjut tentang teori kecerdasan ganda dan penerapannya dalam pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

(1) Bagaimanakah pengertian teori kecerdasan ganda?

(2) Bagaimanakah pendapat tokoh tentang teori kecerdasan ganda?

(3) Bagaimanakah faktor-faktor penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda?

(4) Bagaimanakah kelebihan dan kelemahan teori kecerdasan ganda?

(5) Bagaimanakah penerapan teori kecerdasan ganda dalam pembelajaran?

1.3 Tujuan

(1)  Memaparkan pengertian teori kecerdasan ganda.

(2)  Memaparkan pendapat tokoh tentang teori kecerdasan ganda.

(3)  Memaparkan faktor-faktor penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda.

(4)  Memaparkan kelebihan dan kelemahan teori kecerdasan ganda.

(5)  Memaparkan penerapan teori kecerdasan ganda dalam pembelajaran.


BAB II

PEMBAHASAN

 2.1  Memaparkan pengertian teori kecerdasan ganda.

Istilah kecerdasan atau intelegensi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita sebagai pendidik. Namun sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu tentang kecerdasanpun berkembang. Banyak ahli dari berbagai bidang disiplin ilmu melakukan penelitian tentang otak manusia. Setiap individu tidak hanya memiliki satu kecerdasan tetapi lebih yaitu disebut juga multiple intelligences atau kecerdasan ganda (Budiningsih, 2005).

Kecerdasan ganda merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat diaktifkan melalui proses belajar, interaksi dengan keluarga, guru, teman dan nilai-nilai budaya yang berkembang. Kecerdasan mengandung dua aspek pokok yaitu; kemampuan belajar dari pengalaman dan beradaptasi terhadap lingkungan (Armstrong, 2002).

Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner – seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu. Beberapa karakteristik individu siswa yang perlu dipahami antara lain (Armstrong, 2002) :

  1. Age and maturity level
  2. Motivation and attitude toward subject
  3. Expectation and vocational level
  4. Special Talent
  5. Mechanical Dexterity
  6. Ability to work under various enviro condition.

Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu dipahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal poternsi yang ada pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal (Suciati, 2007).


2.2 Memaparkan pendapat tokoh tentang teori kecerdasan ganda.

Teori Multiple Intelligences (MI) dikembangkan oleh Howard Gardner, ahli psikologi perkembangan dan guru besar pendidikan pada Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat. Teorinya tentang MI dipublikasikan pada tahun 1993. Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (Suparno, 2004).

Howard Gardner memperkenalkan sekaligus mempromosikan hasil penelitian Project Zero di Amerika yang berkaitan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences). Teorinya menghilangkan anggapan yang ada selama ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan seluruh kecerdasan yang selama ini dianggap ada 7 macam kecerdasan, dan pada bukunya yang mutakhir ditambahkan lagi 3 macam kecerdasan. Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya tentu saja berbeda-beda pada masing-masing orang dan pada masing-masing budaya.Namun secara keseluruhan semua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol kecerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah (Relvan, 2004).

Pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner tentang teori kecerdaan ganda yakni.

1) Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat    

    kecerdasannya.

2) Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain.

3) Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang

    berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia.

4) Pada tingkat tertentu, kecerdasan merupakan suatu kesatuan yang utuh.

    Artinya, dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam


Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu.Rentang masalah atau sesuatu yang dihasilkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.Dikatakan mulai dari upaya mengakhiri cerita, menentukan langkah-langkah permainan catur, menambal selimut yang sobek, sampai menghasilkan teori-teori, komposisi musik dan politik. Seseorang dikatakan cerdas bila ia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hidupnya dan mampu menghasilkan sesuatu yang berharga/berguna bagi umat manusia (Relvan, 2004).

Gardner (1983) berhasil mengidentifikasi delapan macam kecerdasan, yang kemudian dikenal sebagai kecerdasan ganda (Multiple Intelligence) atau biasa disingkat dengan MI. Kedelapan jenis kecerdasan tersebut adalah:

1.      Kecerdasan musical

Gardner menyebut kecerdasan musical ini dengan istilah musical/ rhythmic intelligence.  Kecerdasan musical (KM) adalah kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasi musik. Kemampuan ini meliputi menyanyi, bersiul, memainkan alat-alat musik, mengenal pola-pola nada, membuat komposisi musik, mengingat melodi, memahami struktur dan irama musik. Gardner telah mengidentifikasi bahwa  inti dasar KM musical meliputi aspek irama, pola titinada, harmoni, dan timber, tetapi dia segera mengusulkan adanya kekuatan emosional misterius dari musik. Dia menunjukkan beberapa fakta untuk mendukung teorinya bahwa kemampuan musikan berfungsi seperti sebuah intelegensi, yakni apa yang oleh composer disebut sebagai  logical musical thinking dan musical mind (101-2). Kecerdasan musik merupakan kecerdasan yang paling awal berkembang dalam diri manusia (Armstrong, 2002).

Kecerdasan musikal dibuktikan dengan adanya rasa sensitif terhadap nada, melodi, irama musik. Orang-orang yang memilki kecerdasan musikal yang baik antara lain ; komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen dan orang-orang sensitif terhadap unsur suara (Budiningsih, 2005).

Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi musikal :

  1. Pandai mengubah atau mencipta musik.
  2. Senang dan padai bernyanyi.
  3. Pandai mengoperasikan musik serta menjaga ritme, Mudah menangkap musik.
  4. Peka terhadap suara dan musik.

 2. Kecerdasan Kinesthetic

Jenis kecerdasan ini berkaitan dengan pengendalian gerakan badan. Pengenalian gerakan badan ini terletak di korteks motoris dengan  setiap belahan otak mendominasi atau mengendalikan gerakan badan di sisi yang berlawanan (Gardner, 1983). Orang yang cerdas secara kinesthetic akan lebih mudah menirukan dan menciptakan gerakan. Seorang olahragawan yang cerdas kinesthetic akan dapat menyelesaikan dan mencari alternatif gerakan. Penyelesaian gerakan tentu berbeda dengan penyelesaian persamaan matematika, sehingga dalam hal ini orang yang cerdas gerak badan boleh jadi tidak cerdas secara matematik dan sebaliknya (Armstrong, 2002).

Kecerdasan kinestetik tubuh adalah kecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek dan cakap melakukan aktivitas fisik. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin (Dryden, 1999).

Berikut ini individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi kinestetik tubuh:

  1. Senang menari atau akting.
  2. Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu.
  3. Mudah berekspresi dengan tubuh.
  4. Mampu memainkan mimic.
  5. Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.
  6. Senang dan efektif berfikir sambil berjalan, berlari dan berolahraga.
  7. Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.
  8. Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
  9. Senang kegiatan di luar rumah.

3. Kecerdasan logical/mathematical

Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan angka-angka dan bilangan, berpikir logis dan ilmiah, adanya konsistensi dalam pemikiran.. Seseorang yang cerdas secara logika-matematika seringkali tertarik dengan pola dan bilangan/angka-angka. Mereka belajar dengan cepat operasi bilangan dan cepat memahami konsep waktu, menjelaskan konsep secara logis, atau menyimpulkan informasi secara matematik. Kecerdasan ini amat penting karena akan membantu mengembangkan keterampilan berpikir dan logika seseorang. Dia menjadi mudah berpikir logis karena dilatih disiplin mental yang keras dan belajar menemukan alur piker yang benar atau tidak benar. Di samping itu juga kecerdasan ini dapat membantu menemukan cara kerja, pola, dan hubungan, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mengklasifikasikan dan mengelompokkan, meningkatkan pengertian terhadap bilangan dan yang lebih penting lagi meningkatkan daya ingat (Armstrong, 2002).

Kecerdasan logis matematis memungkinkan seseorang terampil dalam melakukan hitungan, penghitungan atau kuantifikasi, mengemukakan proposisi dan hipotesis dan melakukan operasi matematis yang kompleks (Budiningsih, 2005). 

Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi logis-matematis :

  • Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka – teki.
  • Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.
  • Senang mengorganisasikan sesuatu, menyusun scenario.
  • Mampu berfikir logis baik induktif maupun deduktif.
  • Senang silogisme .
  • Senang berfikir abstraksi dan simbolis.

Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis logis adalah ilmuwan, matematikawan, akuntan, insinyur, dan pemprogram computer. 

4. Kecerdasan visual/spatial

Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk melihat secara rinci gambaran visual yang terdapat di sekitarnya. Seorang seniman dapat memiliki kemampuan persepsi yang besar. Bila mereka melihat sebuah lukisan, mereka dapat 
melihat adanya perbedaan yang tampak di antara goresan-goresan kuas, meskipu orang lain tidak mampu melihatnya. Dengan mengamati sebuah foto, seorang fotografer dapat membuat analisis mengenai kelemahan atau kekuatan dari foto tersebut seperti arah datangnya cahaya, latar belakang, dan sebagainya, bahkan mereka dapat memberi jalan keluar bagaimana seandainya foto itu ditingkatkan kualitasnya. Kecerdasan ini sangat dituntut pada profesi-profesi seperti fotografer, seniman, navigator, arsitek. Pada orang-orang ini dituntut untuk melihat secara tepat gambaran visual dan kemudian member arti terhadap gambaran tersebut (Armstrong, 2002).

Orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah orang yang memiliki kapasitas dalam berfikir secara tiga dimensi. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis daan arsitek. Kecerdasan spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis (Suciati, 2007).

Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi visual spasiall :

  1. Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik dan table.
  2. Peka terhadap citra, warna dan sebagainya.
  3. Pandai menvisualisasikan ide.
  4. Imaginasinya aktif.
  5. Mudah menemukan jalan pada ruang.
  6. Mempunyai presepsi yang tepat dari berbagai sudut.
  7. Mengenal relasi benda – benda dalam ruang.

 

5.      Kecerdasan verbal/linguistic

Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini memiliki kemampuan untuk menyusun pikirannya dengan jelas. Mereka juga mampu mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata seperti berbicara, menulis, dan membaca. Orang dengan kecerdasan verbal ini sangat cakap dalam berbahasa, menceriterakan kisah, berdebat, berdiskusi, melakukan penafsiran, menyampaikan laporan dan berbagai aktivitas lain yang terkait dengan berbicara dan menulis. Kecerdasan ini sangat diperlukan pada profesi pengacara, penulis, penyiar radio/televisi, editor, guru (Armstrong, 2002).

Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi bahasa :

a. Senang membaca buku, bercerita atau mendongeng.

b. Senang berkomunikasi, berbicara,berdialog, berdiskusi dan senang berbahasa

    asing.

c. Pandani menghubungkan atau merangkaikan kata – kata atau kalimat baik lisan

    ataupun tertulis.

d. Pandai menafsirkan kata – kata atau paragraph baik secara lisan maupun

    tertulis.

e. Senang mendengarkan musik dan sebagainya dengan baik.

f.  Pandai mengingat dan menghafal.

g. Humoris.

Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu: Pengarang, Penyair, Wartawan, Pembicara, dan Pembaca berita.

 

6. Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti; guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi. Saat ini orang mulai menyadari bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat kesuksesan seseorang (Armstrong, 2002).

Kecerdasan ini berkait dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Pada saat berinteraksi dengan orang lain, seseorang harus dapat memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan teman interaksinya, kemudian memberikan respon yang layak. Orang dengan kecerdasan Interpersonal memiliki kemampuan sedemikian sehingga terlihat amat mudah bergaul, banyak teman dan disenangi oleh orang lain. Di dalam pergaulan mereka menunjukkan kehangatan, rasa persahabatan yang tulus, empati. Selain baik dalam membina hubungan dengan orang lain, orang dengan kecerdasan ini juga berusaha baik dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perselihanan dengan orang lain. Kecerdasan ini amat penting, karena pada dasarnya kita tidak dapat hidup sendiri (No man is an Island). Orang yang memiliki jaringan sahabat yang luas tentu akan lebih mudah menjalani hidup ini. Seorang yang memiliki kecerdasan “bermasyarakat” akan (a) mudah menyesuaikan diri, (b) menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial, (b) berhasil dalam pekerjaan (Armstrong, 2002).

            Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi interpersonal :

  1. Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam organisasi.
  2. Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok bekerja sama dalam tim.
  3. Senang permainan berkelompok dari pada individual.
  4. Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.
  5. Senang berkomunikas verbal dan nonverbal.
  6. Peka terhadap teman.
  7. Suka memberi feedback.
  8. Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.

 

7.   Kecerdasan intrapersonal

            Kecerdasan intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain (Budiningsih, 2005). Berikut ini individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi intra personal :

  1. Mampu menilai diri sendiri dan bermediasi.
  2. Mampu mencanangkan tujuan, menyusun cita – cita dan rencana hidup yang jelas.
  3. Berjiwa bebas.
  4. Mudah berkonsentrasi.
  5. Keseimbangan diri.
  6. Senang mengekspresikan perasaan – perasaan yang berbeda.
  7. Sadar akan realitas spiritual.

8. Kecerdasan naturalistic

Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungannya. Para pecinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang – orang yang memiliki kecerdasan ini (Suciati, 2007).Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam inteligensi naturalis :

a.   Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun, memelihara binatang,  

    berinteraksi dengan binatang dan berburu.

b. Pandai melihat perubahan cuaca, meneliti tanaman.

c. Senang kegiatan di alam terbuka.

 

2.3 Memaparkan faktor-faktor penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda.

    Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :

a.   Orang tua murid

b.  Guru

c.   Kurikulum dan fasilitas

d.  Sistem penilaian

Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki (Budiningsih, 2005).

Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:

 1. Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa.

     Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.

 

2. Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.

     Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :

·       30 % pembelajaran langsung

·       30 % belajar kooperatif

·       30% belajar independent

Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musical (Suciati, 2007).

Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik. Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan 

kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik (Budiningsih, 2005).

Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress)  yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan (Dryden, 1999).

 

2.4  Memaparkan kelebihan dan kelemahan teori kecerdasan ganda.

A.  Kelebihan

  • Pembelajaran dapat lebih focus terhadap suatu kecenderungan kecerdasan dan menunjukkan hasil yang optimal.
  • Memberikan sudut pandang baru terhadap pengembangan potensi manusia.
  • Membuka kesempatan pada pelajar untuk kritis dan berpikiran terbuka. Menghindari adanya penghakiman terhadap manusia dari sudut pandang kecerdasan/inteligensi (Saefuddin, 2006).

 B.  Kelemahan

1) Memiliki kontroversi terutama dalam pandangan ahli psikologi tradisional,

    seperti mencampuradukkan pengertian kecerdasan, ketrampilan dan bakat.

2) Bersifat personal atau individual sehingga teori ini lebih efektif

    digunakan  untuk mengembangkan pembelajaran orang perorang daripada  

    mengembangkan pembelajaran massa atau klasikal.

3) Membutuhkan fasilitas yang lengkap sehingga membutuhkan biaya besar

    untuk operasional klasikal atau massal.

 

2.5  Memaparkan penerapan teori kecerdasan ganda dalam pembelajaran.

Gardner dalam penelitian menemukan meskipun ada peserta didik yang hanya menonjol pada beberapa kecerdasan, dapat dibantu melalui pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk oleh guru di sekolah sehingga peserta didik tersebut dapat mengembangkan kecerdasan yang lain kemudian dapat mengaplikasikan dalam menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapinya. DJadi baik guru maupun peserta didik dapat mengembangkan kecerdasan majemuk yang dimiliki melalui proses belajar mengajar di kelas sehingga semakin berkembang dan memberikan hasil yang maksimal (Hamzah, 2016).

Sedangkan menurut Tobeli, 2016 berpendapat bahwa penerapan pembelajaran dapat dibagi dalam tiga aspek yaitu :

  1. Pertama, secara kognitif dapat dijabarkan sebagai berikut: pertama, dapat menarik perhatian peserta didik. Proses pembelajaran yang tidak monoton atau bervariasi tentu akan menarik perhatian peserta didik. Kedua, ada perubahan hasil belajar. Semua pendidik berharap setelah belajar, peserta didik dapat mengerti apa materi yang telah disampaikan dengan melakukan post tes.
  2. Kedua, secara afektif adalah motivasi. Menurut Djamarah, motivasi merupakan suatu kekuatan yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan termasuk belajar. Seseorang akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Dorongan untuk belajar inilah yang disebut dengan motivasi, yang meliputi dua hal yaitu mengetahui apa yang akan dipelajari dan memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari.
  3. Ketiga, Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Jadi yang dimaksud dengan keterampilan motorik disini yaitu keterampilan seseorang melakukan aktivitas sebagai wujud penerapan pembelajaran yang telah diperoleh dari guru.


DAFTAR PUSTAKA

             Armstrong, T., 2002. Sekolah Para Juara  : Menerapkan Multiple Intelegences di Dunia Pendidikan. Bandung : Kaifa.

Azwar, Saifuddin, 2006. Pengantar Psikologi Inteligensi. Edisi I, Cetakan V. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiningsih, C. Asri, 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Dryden, G.S. 1999. Revolusi Cara Belajar : Keajaiban Pikiran. Bandung : Kaifa.

Hamzah, Amir. 2016. Teori Multiple Intelligences Dan Implikasinya Terhadap Pengelolaan Pembelajaran. (online). (ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/tadris/article/view/256/24). (diakses tanggal 11 maret 2017).

Relvan. 2004. Pendekatan Multi Kecerdasan Menurut Gardner dan Implikasinya Bagi Pembelajaran PAI. Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 1, No. 2.

Suciati,dkk. 2007. Belajar dan Pembelajaran 2.Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.

Suparno, Paul. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah.

Tobeli, Evi. 2016.  Model Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk Dan Penerapannya Dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini. (Online),

Tugas Kelompok_ TP 2022 FIP UNY

Yoka Larasati Fatikhaningrum

Syahrir

Andi Muhammad Iqbal Fallawarukka



Post a Comment for "TEORI KECERDASAN GANDA DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARA"